RSPAU dr. S. Hardjolukito menyelenggarakan Webinar Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI) bertajuk “Pengelolaan Outbreak Pasien Infeksius” pada Kamis, (30/4/26).. Kegiatan ini menjadi bagian dari komitmen rumah sakit dalam memperkuat kesiapsiagaan tenaga kesehatan menghadapi potensi lonjakan kasus penyakit infeksi di lingkungan pelayanan kesehatan. Webinar ini diikuti oleh peserta dari berbagai instansi pelayanan kesehatan, baik rumah sakit TNI, rumah sakit pemerintah, rumah sakit swasta, puskesmas, maupun fasilitas kesehatan lainnya dari berbagai daerah di Indonesia.
Webinar dibuka secara resmi oleh Kepala RSPAU dr. S. Hardjolukito, Marsma TNI dr. Margono Gatot S., Sp.JP. Dalam sambutannya, Kepala RSPAU menegaskan bahwa perkembangan penyakit infeksi saat ini menuntut setiap fasilitas pelayanan kesehatan untuk selalu memiliki kesiapsiagaan yang optimal, khususnya dalam menghadapi potensi outbreak penyakit infeksius.
“Program Pencegahan dan Pengendalian Infeksi memiliki peran yang sangat strategis dalam menjaga keselamatan pasien, tenaga kesehatan, pengunjung, serta lingkungan rumah sakit. Implementasi program PPI yang kuat dan konsisten menjadi salah satu kunci dalam memutus rantai penularan infeksi dan meningkatkan mutu pelayanan kesehatan secara menyeluruh,” tegas Ka RSPAU dr. S. Hardjolukito.
Kegiatan yang dimoderatori oleh Senja Ekawati, A.Md.Kep. ini menghadirkan tiga narasumber internal yang kompeten di bidangnya. Materi pertama disampaikan oleh Kolonel Kes dr. Ni’mah Hayati, Sp.PA. dengan topik Epidemiologi HAIs, yang membahas definisi Healthcare Associated Infections (HAIs), jenis-jenis HAIs, serta langkah-langkah pencegahan yang perlu diterapkan di fasilitas pelayanan kesehatan.
Materi kedua disampaikan oleh Lina Efendi, S.Kep., Ners., yang mengangkat tema Penyakit Infeksi Terkini yang Berisiko Wabah. Dalam paparannya, dijelaskan berbagai penyakit emerging dan re-emerging yang saat ini berkembang, beserta strategi pencegahan dan pengendalian yang perlu dipahami oleh tenaga kesehatan guna meminimalkan risiko penularan.

Komentar