Daftar Berita

Ka RSPAU Guncang Jogja Cardiology Update 2025, Dorong Revolusi Ilmiah Nasional

Gaung RSPAU dr. S. Hardjolukito kembali menggema di panggung ilmiah nasional. Kali ini, forum ilmiah bergengsi Jogja Cardiology Update 2025 menjadi saksi kehadiran luar biasa Kepala RSPAU, Marsma TNI dr. Margono Gatot S., Sp.JP., sebagai narasumber utama dalam pertemuan tahunan yang menghadirkan para ahli kardiologi dari seluruh Indonesia. Kegiatan ini digelar di Hotel Tentrem Yogyakarta, pada Sabtu (2/8/25).

Lebih dari 300 peserta yang terdiri dari dokter umum hingga spesialis jantung memenuhi ruangan, antusias mengikuti pemaparan Kepala RSPAU yang membawakan topik terkini berjudul “Advanced Heart Failure: From Transplantation to Palliative Care.”

Dengan gaya penyampaian yang lugas dan penuh energi, Kepala RSPAU dr. S. Hardjolukito menyampaikan fakta bahwa kasus gagal jantung stadium lanjut kini meningkat tajam dan tidak lagi bisa ditangani dengan pendekatan konvensional. Beliau menekankan perlunya transformasi paradigma penanganan, menjadi menciptakan kualitas hidup yang lebih baik, melalui transplantasi jantung serta pendekatan paliatif yang melibatkan tim dan keluarga.

“Ini bukan lagi soal hidup atau mati, ini tentang bagaimana pasien menjalani sisa hidupnya dengan bermakna, dengan martabat, dan dengan dukungan penuh dari tim medis dan keluarga,” tegas Marsma TNI dr. Margono Gatot S, Sp.JP., yang sontak mendapat respons positif dari audiens.

Keterlibatan Kepala RSPAU dr. S. Hardjolukito dalam forum ilmiah nasional ini sekaligus menunjukkan bahwa RSPAU tidak hanya berdiri sebagai benteng kesehatan TNI AU, namun juga menjadi mercusuar pengetahuan dan inovasi kedokteran modern di Indonesia.

Partisipasi aktif RSPAU dalam forum nasional seperti ini merupakan bukti nyata bahwa rumah sakit milik TNI AU ini terus bergerak dinamis, bertransformasi, dan berinovasi tanpa henti dalam mewujudkan layanan kesehatan yang tidak hanya tangguh di medan tugas, tetapi juga unggul di kancah ilmiah nasional. Humas RSPAU

 

 

Life After Breakup: Dari Luka Menjadi Level Up

Putus cinta sering terasa seperti bumi runtuh di bawah kaki. Hati remuk, pikiran kusut penuh overthinking, dan malam terasa panjang tanpa akhir. Awalnya, lari menjadi jawaban—bukan lari dari kenyataan, tapi lari dari kekacauan di kepala. Setiap tarikan napas di udara pagi, setiap langkah kaki di trotoar, dan keringat yang menetes di dahi menjadi pelarian dari rasa sakit yang sulit diungkapkan. Jogging, yoga, dan olahraga ringan yang dimulai hanya untuk melepaskan penat perlahan-lahan berubah menjadi rutinitas yang menyenangkan.

Niat awalnya sederhana: “hilangkan stres, buang kepenatan.” Tidak ada tujuan besar, hanya ingin sedikit lega dan tenang. Namun, seperti sungai yang menemukan jalannya sendiri, kebiasaan ini mulai mengalir dalam kehidupan. Setiap langkah di pagi hari membawa rasa lega, setiap gerakan yoga membuat tubuh terasa hidup, dan setiap tetes keringat seakan menandai satu langkah menjauh dari masa lalu yang menyakitkan.

Seiring waktu, pelarian itu berubah menjadi kebiasaan. Tubuh yang dulu lelah dan rapuh mulai berubah: energi bertambah, otot terasa lebih kuat, dan postur tubuh membaik. Yang awalnya sekadar “lari dari sakit hati” kini menjadi ritual self-care yang konsisten. Hati yang dulu rapuh mulai menerima proses penyembuhan, dan tubuh ikut menyesuaikan diri, seolah ikut merayakan transformasi yang terjadi di dalam diri.

Perubahan fisik ini juga berdampak pada psikologis. Semakin tubuh sehat, semakin mental terasa tangguh. Dari sini, muncullah kesadaran bahwa self-love bukan sekadar kata, tapi praktik nyata dalam kehidupan sehari-hari. Memberi waktu untuk diri sendiri, merawat tubuh, dan menghargai kebutuhan emosional menjadi bentuk cinta paling tulus. Olahraga pun berperan sebagai terapi bukan hanya untuk tubuh, tapi juga untuk jiwa yang terluka.

Proses ini membawa pada pemahaman lebih luas tentang healing. Dari jogging pagi yang sederhana, muncul kesadaran untuk menjaga pola makan, tidur lebih teratur, dan menyisihkan waktu untuk kegiatan yang menenangkan pikiran. Semua hal ini saling terkait, membentuk arus self-love yang nyata. Pelarian kecil dari overthinking kini menjadi fondasi kehidupan yang lebih sehat, seimbang, dan bahagia.

Dari luka pasca-putus, lahirlah transformasi menyeluruh. Setiap pagi yang dimulai dengan olahraga menjadi simbol: hari ini adalah kesempatan untuk menjadi versi diri yang lebih baik, untuk “level up” dalam kehidupan. Life After Breakup bukan sekadar fase pasca-patah hati; ia menjadi momen penting untuk membangun diri, memperkuat tubuh, dan menata hati.

Kini, ketika menatap cermin, yang terlihat bukan hanya tubuh yang lebih fit, tetapi seseorang yang belajar mencintai diri sendiri, menghargai proses, dan menemukan kekuatan dalam konsistensi. Dari pelarian kecil lahirlah kekuatan besar: bukan hanya untuk bertahan, tapi untuk tumbuh, untuk menghadapi dunia dengan percaya diri.

Cerita ini menjadi pengingat bagi siapa pun yang sedang dalam masa sulit: jalan keluar tidak selalu berupa keputusan besar, kadang cukup langkah kecil yang konsisten—jalan pagi, napas dalam, dan waktu untuk menyembuhkan diri sendiri. Pelarian dari sakit hati bisa menjadi awal dari transformasi yang utuh. Setiap luka bisa menjadi batu loncatan untuk menjadi versi diri yang lebih kuat, sehat, dan bahagia.

Life After Breakup adalah kisah bahwa penyembuhan itu nyata. Bahwa luka bisa menjadi titik awal untuk perubahan. Bahwa self-love dan kebugaran fisik saling menguatkan. Dan yang terpenting, setiap orang memiliki kemampuan untuk “level up” dalam hidupnya sendiri, selama berani memulai langkah demi langkah, napas demi napas. Humas RSPAU

Baru Kali Ini Siswa SD Diperiksa dari Kepala hingga Jantung, Aksi Kolaborasi RSPAU dan Pemkot Jogja Tuai Pujian

Pemeriksaan kesehatan menyeluruh bagi anak-anak usia sekolah semakin menjadi kebutuhan mendesak di tengah meningkatnya berbagai kasus gangguan kesehatan yang ditemukan pada anak-anak di Indonesia. Belakangan ini, sejumlah laporan mengungkapkan tingginya angka kelainan jantung bawaan, gangguan penglihatan, masalah gizi, serta kesehatan mental yang kurang diperhatikan sejak dini. Kasus-kasus tersebut, jika tidak terdeteksi dan ditangani secara tepat, berpotensi menghambat tumbuh kembang dan prestasi anak di masa depan. Hal ini menjadi perhatian serius karena kesehatan anak merupakan fondasi utama dalam mencetak generasi unggul yang sehat dan produktif.

Melihat kondisi tersebut, RSPAU dr. S. Hardjolukito bekerja sama dengan Pemerintah Kota Yogyakarta melaksanakan Bakti Sosial Pemeriksaan Kesehatan Gratis di SDN Lempuyangwangi. Kegiatan ini bertujuan untuk mendeteksi sejak dini masalah kesehatan yang mungkin dialami oleh anak-anak, sehingga dapat segera ditangani dan mencegah dampak jangka panjang terhadap kesehatan mereka.

Tawa riang para siswa SDN Lempuyangwangi Yogyakarta menggema di sela-sela pelaksanaan pemeriksaan kesehatan gratis yang digelar di lingkungan sekolah mereka. Bukan hari belajar biasa, pada hari Kamis (31/7/25) para siswa mendapat layanan istimewa dari tim medis profesional dalam rangkaian kegiatan Bakti Sosial Pemeriksaan Kesehatan Gratis ini.

Tak kurang dari 168 siswa mendapatkan pemeriksaan kesehatan menyeluruh, mulai dari pemeriksaan Kesehatan THT, mata, gigi, status gizi, hingga kesehatan mental. Khusus untuk siswa kelas 1, sebanyak 84 anak juga menjalani skrining kelainan jantung bawaan, sebagai bentuk deteksi dini terhadap penyakit yang bisa memengaruhi tumbuh kembang anak jika tidak terdeteksi sejak dini. Skrining jantung ini dilakukan menggunakan teknologi elektrokardiogram (EKG) portabel, alat medis canggih yang dibawa langsung oleh tim dokter RSPAU ke lokasi pemeriksaan. Alat ini memungkinkan pengambilan data rekam jantung secara cepat dan akurat tanpa harus membawa siswa ke rumah sakit, sehingga proses skrining berjalan lebih efisien dan minim gangguan bagi anak-anak.

Lebih dari sekedar aksi sosial, kegiatan ini menjadi bagian dari upaya bersama mendukung program pemerintah di bidang kesehatan anak dan pencegahan penyakit tidak menular. Pemeriksaan dini yang menyasar usia sekolah seperti ini terbukti efektif sebagai langkah preventif dalam pembangunan sumber daya manusia yang sehat, unggul, dan siap menghadapi masa depan.

Kepala RSPAU dr. S. Hardjolukito Marsma TNI dr. Margono Gatot S, Sp.JP., menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan wujud pengabdian nyata TNI AU dalam mendukung pembangunan kesehatan nasional.

“Melalui bakti sosial ini, kami ingin hadir lebih dekat dengan masyarakat, khususnya anak-anak, yang merupakan masa depan bangsa. Kolaborasi seperti ini menjadi kunci dalam memperkuat sistem kesehatan preventif di Indonesia,” ungkapnya.

Wali Kota Yogyakarta, Dr. (H.C.) dr. H. Hasto Wardoyo, Sp.OG (K), yang hadir langsung dalam kegiatan ini, menyambut positif inisiatif yang diinisiasi bersama RSPAU. Beliau menekankan bahwa kegiatan ini sangat selaras dengan visi pemerintah kota dalam mewujudkan masyarakat yang sehat sejak dini.

“Kami sangat mengapresiasi kegiatan seperti ini. Pemeriksaan rutin di sekolah adalah langkah nyata dalam membangun generasi yang sehat jiwa dan raganya,” ujarnya.

Turut hadir dalam kegiatan ini antara lain Kepala Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta, Kepala Dinas Pendidikan Kota Yogyakarta, Kepala Mantri Pamong Praja, Kepala SDN Lempuyangwangi, serta jajaran kepala puskesmas di wilayah kerja Kecamatan Danurejan.

Dengan antusiasme tinggi dari siswa dan dukungan penuh dari berbagai pihak, kegiatan ini menjadi contoh konkret sinergi antara institusi militer dan pemerintah daerah dalam mendukung transformasi layanan kesehatan nasional, sekaligus mengingatkan bahwa membangun bangsa dimulai dari menjaga senyum sehat anak-anak Indonesia. Humas RSPAU

 

Meski Si Manis Menggoda, Tapi Gula Darah Tetap Harus Dijaga

Manis selalu punya cara untuk membuat kita tersenyum. Sekilas, sepotong cokelat di sela kesibukan, segelas kopi hangat dengan gula tambahan, atau kue di meja rapat tampak seperti teman setia yang bisa mengusir penat. Rasanya seperti pelukan kecil untuk hati yang lelah, memberikan kenyamanan sejenak di tengah hiruk-pikuk hari. Tapi, di balik sensasi manis itu, tubuh kita diam-diam mengirim sinyal peringatan. Setiap gula yang masuk, jika tak dijaga, bisa mengintai kesehatan dan mengganggu keseimbangan tubuh kita.

Gula memang sumber energi penting bagi tubuh, tapi konsumsi berlebihan bisa menjadi “musuh tersembunyi”. Setiap kali kita menelan camilan manis, pankreas bekerja keras memproduksi insulin untuk menormalkan kadar gula. Lama-lama, kerja keras ini bisa melelahkan tubuh dan membuka jalan bagi penyakit seperti diabetes. Tantangannya, godaan itu ada di mana-mana, dari minuman manis yang selalu tersedia, kue di meja rapat, hingga perayaan keluarga dengan berbagai hidangan manis menggoda.

Tetapi menjaga gula darah tidak berarti harus menjauh sepenuhnya dari manis. Kuncinya ada pada kesadaran, kontrol porsi, dan keseimbangan. Misalnya, menyeimbangkan camilan manis dengan buah, sayur, atau makanan tinggi serat. Atau menambahkan aktivitas fisik sederhana, seperti jalan kaki sejenak setelah makan. Langkah-langkah kecil ini bisa membuat perbedaan besar dalam jangka panjang.

Memantau gula darah juga penting, bukan hanya bagi penderita diabetes. Alat ukur gula darah kini mudah digunakan di rumah, memberikan informasi yang berharga untuk menyesuaikan pola makan dan aktivitas harian. Dengan mengetahui kondisi tubuh, kita bisa lebih bijak dalam memilih makanan dan mengatur kebiasaan sehari-hari.

Perlu diingat, setiap orang berbeda. Toleransi tubuh terhadap gula dipengaruhi oleh genetik, usia, berat badan, dan gaya hidup. Jadi, tidak ada ukuran satu untuk semua. Yang penting adalah mengenali tubuh sendiri, membaca sinyalnya, dan membuat keputusan yang mendukung kesehatan.

Mengganti sebagian camilan manis dengan alternatif sehat seperti buah segar, kacang-kacangan, atau yogurt rendah gula, tidak membuat hidup kehilangan kenikmatan. Justru, tubuh akan lebih bersyukur, energi stabil, mood lebih baik, dan aktivitas sehari-hari terasa lebih ringan. Menjaga gula darah bukan sekadar soal menghindari penyakit, tapi tentang mencintai tubuh sendiri dan memberikan yang terbaik untuk masa depan.

Jadi, saat godaan manis datang, nikmati dengan bijak. Rasakan setiap rasa manisnya, tapi jangan lupa untuk menjaga keseimbangan. Tubuh yang sehat adalah hadiah terbesar yang bisa kita berikan pada diri sendiri. Setiap pilihan kecil hari ini adalah langkah menuju hidup lebih bugar, lebih ceria, dan lebih lama menikmati momen manis tanpa risiko. Humas RSPAU

 

Monev Data ASPAK dan TT KRIS RSPAU Konsisten Wujudkan Pelayanan Berkualitas dan Transparan

Sebagai bagian dari upaya berkelanjutan dalam meningkatkan mutu pelayanan serta validasi data fasilitas kesehatan, RSPAU dr. S. Hardjolukito menerima kunjungan Tim Monitoring dan Evaluasi (Monev) dari Dinas Kesehatan Kabupaten Bantul, Selasa (29/7/25). Kegiatan ini merupakan rangkaian Monev ASPAK (Aplikasi Sarana, Prasarana, dan Alat Kesehatan) dan pelaporan Tempat Tidur KRIS (Ketersediaan Rumah Sakit dan Informasi Sistem) yang dilakukan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Bantul, sebagai upaya memastikan keterpaduan data dan akurasi pelaporan yang sangat penting bagi pengelolaan pelayanan kesehatan di tingkat daerah maupun nasional.

Dalam kesempatan ini, Wakil Kepala RSPAU dr. S. Hardjolukito membacakan sambutan Kepala RSPAU dr. S. Hardjolukito, yang menggarisbawahi pentingnya integritas dan akurasi dalam pengisian data ASPAK. Kepala RSPAU menegaskan bahwa data yang valid dan transparan merupakan fondasi utama dalam pengambilan kebijakan strategis untuk meningkatkan kualitas layanan rumah sakit.

 "Kami menyambut baik kegiatan ini sebagai bagian dari upaya bersama dalam memastikan bahwa pelayanan di RSPAU dr. Suhardi Hardjolukito senantiasa selaras dengan standar nasional, transparan dalam pelaporan, serta terintegrasi secara digital dengan sistem informasi kesehatan pemerintah," kata Kepala RSPAU dr. S. Hardjolukito dalam sambutannya.

Lebih lanjut, Kepala RSPAU dr. S. Hardjolukito juga menegaskan bahwa pelaporan ASPAK dan TT KRIS bukan sekadar kewajiban administratif, melainkan cerminan dari akuntabilitas, kesiapan infrastruktur, serta mutu layanan yang diberikan kepada masyarakat. Dalam kerangka inilah, RSPAU menyatakan kesiapannya mendukung penuh program pemerintah terkait Klasifikasi Rumah Sakit berbasis Kompetensi dan implementasi Program KRIS yang akan diberlakukan secara nasional pada 31 Desember 2025. RSPAU berkomitmen untuk terus berbenah, agar seluruh indikator layanan dan fasilitas yang dimiliki sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan Kementerian Kesehatan.

Adapun Tim Monitoring dan Evaluasi dari Dinas Kesehatan Kabupaten Bantul yang hadir dalam kegiatan tersebut terdiri atas tenaga ahli yang berkompeten di bidang pelayanan kesehatan rujukan dan administrasi data, yaitu dr. Yoseph Doni selaku Kepala Seksi Pelayanan Kesehatan Rujukan, Nelly Syukriani Z, S.Tr.Keb., Bdn. sebagai Penelaah Teknis Kebijakan Pelayanan Kesehatan Rujukan, Sausan Iriana, SKM dan Afita Mega, S.Tr.Keb. sebagai Analis Administrasi Pelayanan Kesehatan Rujukan, serta Krisnawan P., Amd.Kep. dan Upik Rahmi, Amd.Kep. yang bertugas sebagai pengelola data pelayanan kesehatan rujukan.

Selama pelaksanaan kegiatan, tim dari Dinkes melakukan verifikasi dan validasi menyeluruh terhadap data ASPAK dan pelaporan tempat tidur KRIS yang telah diinput oleh RSPAU pada aplikasi RS Online. Verifikasi ini meliputi pengecekan ketersediaan sarana, prasarana, alat kesehatan, serta kondisi riil jumlah dan jenis tempat tidur yang tersedia untuk pasien rawat inap. Tim Monev juga meninjau proses penginputan data agar sesuai dengan prosedur yang berlaku dan memberikan rekomendasi perbaikan untuk optimalisasi pengelolaan data. Hal ini penting agar sistem pelaporan menjadi lebih efisien, akurat, dan mudah diakses oleh berbagai pihak terkait secara real-time.

Kegiatan ini tidak hanya menjadi evaluasi satu arah, melainkan juga sebagai forum koordinasi dan komunikasi dua arah antara RSPAU dan Dinas Kesehatan Kabupaten Bantul. Dengan demikian, rumah sakit dapat menerima masukan konstruktif untuk terus menyempurnakan sistem pelayanan dan pelaporan, sementara Dinkes dapat memperoleh gambaran kondisi aktual fasilitas kesehatan di lapangan. Dengan data yang valid dan terverifikasi, RSPAU mampu mengantisipasi kebutuhan pasien secara tepat serta merancang pengembangan fasilitas dan layanan sesuai standar nasional dan kebutuhan masyarakat.

Dengan adanya penguatan manajemen data dan pengawasan, RSPAU dr. S. Hardjolukito optimis mampu meningkatkan kepercayaan masyarakat dan memperkuat posisinya sebagai rumah sakit rujukan yang handal dan terpercaya di wilayah DIY dan sekitarnya. Melalui langkah-langkah strategis ini, diharapkan derajat kesehatan masyarakat akan terus meningkat, sejalan dengan visi dan misi RSPAU untuk memberikan pelayanan kesehatan terbaik. Humas RSPAU

 

Tak Lupa Sejarah, Tak Henti Mengabdi: RSPAU di Pusara Para Pejuang Dirgantara

Sebagai bentuk penghormatan dan penghargaan atas jasa para pahlawan perintis TNI AU, Ka RSPAU dr. S. Hardjolukito didampingi Ketua PIA AG Anak Ranting 001-05-3 RSPAU dr. S. Hardjolukito beserta pengurus dan para pejabat RSPAU turut hadir dan berpartisipasi dalam kegiatan ziarah di Monumen Perjuangan TNI AU Ngoto, Bantul, Senin (28/7/25).

Ziarah yang dipimpin oleh Gubernur Akademi Angkatan Udara (AAU), Marsda TNI Dr. Ir. Purwoko Aji Prabowo, M.M., MDS., berlangsung khidmat. Upacara dimulai dengan penghormatan kepada arwah para pahlawan, dilanjutkan doa dan tabur bunga di pusara Marsekal Muda TNI Anumerta Agustinus Adisutjipto serta Marsekal Muda TNI Anumerta Prof. Dr. Abdulrachman Saleh, dua tokoh penting dalam sejarah perjuangan TNI AU.

Partisipasi RSPAU dalam kegiatan ini tidak semata menjalankan tradisi, melainkan bentuk penghargaan mendalam terhadap nilai-nilai perjuangan, dedikasi, dan pengabdian yang telah diwariskan oleh para pahlawan dirgantara. Bagi RSPAU, ziarah ini juga menjadi refleksi dan pengingat bahwa semangat pengorbanan para pendahulu harus terus dihidupkan dalam pelayanan nyata kepada bangsa dan negara, terutama dalam bidang kesehatan.

Kepala RSPAU dr. S. Hardjolukito Marsma TNI dr. Margono Gatot S, Sp,JP.,  menyampaikan bahwa semangat Hari Bakti harus menjadi inspirasi bagi seluruh insan RSPAU untuk terus bertransformasi, berinovasi, dan memberikan layanan kesehatan terbaik, khususnya bagi prajurit TNI AU, keluarganya, serta masyarakat umum.

Sebagai rumah sakit pusat TNI AU, RSPAU dr. S. Hardjolukito memegang tanggung jawab besar dalam menjaga amanah perjuangan para pahlawan. Melalui kegiatan ziarah ini, RSPAU menegaskan komitmennya untuk terus mengabdi dengan hati, menjunjung tinggi nilai-nilai perjuangan, serta menjadi bagian dari kekuatan pertahanan kesehatan nasional yang tangguh dan berdaya saing. Humas RSPAU

Penyakit yang Bisa Bunuh Masa Depan Anak, Padahal Mudah Dicegah

Di balik tawa ceria anak-anak, tersembunyi risiko kesehatan yang kerap luput dari perhatian orang tua. Beberapa penyakit, jika tidak dicegah sejak dini, bisa menghambat pertumbuhan, perkembangan, bahkan merusak masa depan anak. Ironisnya, banyak dari penyakit tersebut sebenarnya mudah dicegah dengan langkah sederhana yang tersedia bagi setiap keluarga.

Salah satu ancaman klasik adalah penyakit menular yang kini bisa diatasi dengan vaksin. Campak, polio, dan difteri adalah contoh nyata. Campak bukan sekadar ruam atau demam ringan; komplikasinya bisa parah, mulai dari pneumonia hingga kerusakan otak. Polio, yang menyebabkan kelumpuhan permanen, pernah menjadi momok di banyak negara, namun nyatanya dapat dicegah dengan imunisasi rutin. Difteri, meski jarang terdengar akhir-akhir ini, tetap menimbulkan risiko serius pada saluran pernapasan dan jantung. Kesemuanya bisa diantisipasi melalui program vaksinasi yang tepat waktu.

Sayangnya, kurangnya kesadaran dan mitos seputar vaksin membuat sebagian orang tua menunda atau menolak imunisasi. Padahal, satu vaksin saja bisa menyelamatkan anak dari penderitaan seumur hidup. Ahli kesehatan menekankan pentingnya edukasi masyarakat: “Mencegah selalu lebih baik daripada mengobati. Anak yang terlindungi dari penyakit sejak dini memiliki peluang lebih besar untuk tumbuh sehat dan produktif,” ujar seorang dokter anak.

Tidak hanya penyakit menular, gaya hidup modern juga menghadirkan ancaman baru bagi anak-anak. Obesitas anak, misalnya, meningkat pesat dalam dua dekade terakhir. Anak yang mengalami kelebihan berat badan berisiko mengidap diabetes tipe 2, hipertensi, hingga gangguan jantung sejak dini. Sementara pola makan tinggi gula dan minim aktivitas fisik dianggap sepele, dampaknya bisa mengancam kualitas hidup anak di masa depan. Penanganan dini melalui pola makan sehat, olahraga rutin, dan pengawasan berat badan dapat mengubah arah kehidupan anak secara signifikan.

Selain itu, penyakit seperti anemia defisiensi zat besi dan kekurangan vitamin D juga sering tidak disadari. Anemia pada anak bisa menyebabkan kelelahan, menurunkan konsentrasi belajar, bahkan menghambat pertumbuhan otak. Kekurangan vitamin D dapat mengganggu pertumbuhan tulang dan sistem kekebalan tubuh. Padahal, kedua kondisi ini dapat dicegah dengan asupan gizi seimbang dan paparan sinar matahari yang cukup.

Kesadaran orang tua menjadi faktor kunci. Pemeriksaan rutin, imunisasi lengkap, dan edukasi gizi bukan sekadar formalitas, melainkan investasi nyata untuk masa depan anak. Mencegah lebih mudah, lebih murah, dan tentu lebih aman dibandingkan mengobati penyakit yang sudah berkembang. Hal sederhana seperti memantau jadwal imunisasi, mengatur menu makanan bergizi, serta memastikan anak aktif bergerak setiap hari, mampu menjadi perisai yang melindungi anak dari risiko penyakit berbahaya.

Selain peran keluarga, lingkungan dan sekolah juga memegang peranan penting. Pendidikan kesehatan di sekolah, penyediaan makanan bergizi, hingga program olahraga rutin dapat membantu anak membangun kebiasaan sehat sejak dini. Sinergi antara keluarga, sekolah, dan tenaga kesehatan akan menciptakan ekosistem yang mendukung pertumbuhan anak optimal.

Tidak kalah penting, anak-anak juga perlu diajarkan untuk mengenali tubuh mereka sendiri. Ajarkan mereka kebiasaan cuci tangan, menjaga kebersihan makanan, serta menyampaikan keluhan kesehatan kepada orang tua atau guru. Kesadaran diri sejak dini membekali anak dengan keterampilan hidup yang krusial: melindungi diri dari penyakit, memahami pentingnya pola hidup sehat, dan membangun ketahanan tubuh untuk menghadapi berbagai tantangan kesehatan di masa depan.

Masa depan anak bukan hanya tentang pendidikan atau kesempatan, tetapi juga kesehatan. Penyakit yang bisa dihindari seharusnya tidak menjadi penghalang bagi mereka untuk tumbuh dan berkembang secara optimal. Orang tua, tenaga kesehatan, sekolah, dan masyarakat memiliki tanggung jawab bersama untuk memastikan anak-anak terlindungi. Langkah-langkah sederhana—vaksinasi lengkap, pola makan seimbang, olahraga rutin, serta pemeriksaan kesehatan berkala—bisa menjadi perisai kuat yang menjamin masa depan anak tetap cerah.

Dalam dunia kesehatan, waktu adalah faktor krusial. Semakin cepat pencegahan dilakukan, semakin besar peluang anak tumbuh sehat, cerdas, dan bahagia. Jangan tunggu gejala muncul. Investasi kesehatan sejak dini adalah bentuk cinta paling nyata bagi masa depan anak. Sebab, anak yang sehat hari ini adalah generasi yang siap menghadapi tantangan besok.

 

Dirgahayu Akademi Angkatan Udara ke-60

Kepala RSPAU dr. S. Hardjolukito dan Ketua PIA AG Anak Ranting 001-05-3 RSPAU, beserta seluruh Civitas Hospitalia RSPAU, mengucapkan :

"Dirgahayu Akademi Angkatan Udara ke-60"
26 Juli 1965 – 26 Juli 2025

"VIDYA KARMA VIRA PAKCA"

RSPAU Selamatkan puluhan nyawa di BPBD DIY

Penyakit jantung merupakan penyebab kematian tertinggi di Indonesia. Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia tahun 2023 oleh Kemenkes, prevalensi penyakit jantung nasional mencapai 0,85% dari total penduduk. Hingga Juni 2024, tercatat sekitar 1,84 juta pasien jantung mengunjungi fasilitas primer seperti puskesmas dan klinik.

Tingginya angka penderita jantung tersebut menjadi peringatan bahwa setiap orang, terutama instansi yang bersentuhan langsung dengan kondisi darurat  dalam melakukan pertolongan pertama yang tepat sangatlah krusial. Menjawab kebutuhan tersebut, RSPAU dr. S. Hardjolukito menggelar Pelatihan Bantuan Hidup Dasar (BHD) bagi para pegawai Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Daerah Istimewa Yogyakarta, bertempat di kantor BPBD DIY Jumat (25/07/2025). Kegiatan ini menjadi bagian dari sinergitas antarinstansi dalam upaya peningkatan kesiapsiagaan menghadapi kondisi kedaruratan medis di lapangan. Melalui kolaborasi ini, baik sektor kesehatan maupun kebencanaan menunjukkan komitmen bersama untuk meningkatkan kapasitas personel dalam menyelamatkan nyawa di situasi kritis.

Pelatihan ini juga menitikberatkan pada kesiapsiagaan serta peningkatan kompetensi para pegawai BPBD DIY, terutama mereka yang bertugas di lapangan sebagai ujung tombak penyelamatan pertama saat terjadi bencana. Mulai dari korban tenggelam, hanyut terseret arus, korban tanah longsor dan lain sebagainya. semuanya membutuhkan respon cepat dan pertolongan dasar yang tepat.

Hadir dalam kegiatan tersebut, Kabiddukes RSPAU dr. S.Hardjolukito Kolonel Kes dr. Ketut Sutaendy, Sp. An-KICdidampingi Ketua Tim BHD RSPAU, Letkol Kes dr. Luhur Pribadi, Sp.JP , beserta Tim. Acara diawali dengan pemaparan materi seputar teori dasar BHD. Para peserta kemudian mengikuti sesi praktik langsung mengenai  teknik dasar resusitasi jantung paru.

Para peserta pelatihan tampak antusias mengikuti setiap tahapan kegiatan, Dengan semangat kolaborasi antara RSPAU dr. S. Hardjolukito dan BPBD DIY, pelatihan ini diharapkan mampu mencetak lebih banyak individu yang sigap dan tanggap dalam menghadapi situasi darurat . Sebuah langkah nyata menyelamatkan nyawa sejak detik pertama. Humas RSPAU.

 

RSPAU Bongkar Formula Rahasia untuk Atasi Gizi Buruk Anak

Di balik penurunan angka prevalensi stunting secara nasional, masih tersembunyi pekerjaan rumah besar bagi bangsa ini yakni menciptakan generasi Indonesia yang sehat, cerdas, dan unggul. Data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) Tahun 2024 yang dirilis Kementerian Kesehatan RI menunjukkan penurunan angka stunting dari 21,5% pada 2023 menjadi 19,8% pada 2024. Namun demikian, prevalensi wasting (gizi buruk dan gizi kurang) masih berada di angka 9,2%, yang menunjukkan bahwa tantangan gizi di Indonesia belum usai. Sebab setiap angka bukan sekadar statistik, tetapi masa depan seorang anak.

Berangkat dari kesadaran mendalam akan pentingnya intervensi yang tepat dan terarah terhadap masalah wasting, RSPAU dr. S. Hardjolukito menyelenggarakan Webinar Nasional bertema “Terapi Gizi pada Anak Gizi Buruk dan Cara Pembuatan Formula Nutrisi Medis”, Rabu (23/7/2025). Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian peringatan Hari Anak Nasional serta bentuk nyata kontribusi RSPAU dalam mendukung program nasional percepatan penurunan stunting dan wasting melalui pendekatan ilmiah, aplikatif, dan kontekstual bagi para tenaga kesehatan.

Ka RSPAU dr. S. Hardjolukito Marsma TNI dr. Margono Gatot S., Sp.JP., dalam sambutannya menekankan pentingnya pendekatan ilmiah dan kontekstual dalam penanganan masalah gizi di Indonesia.

“Webinar ini bukan hanya forum ilmiah, tetapi juga bentuk nyata kepedulian kita terhadap masa depan anak-anak Indonesia,” tegas Marsma TNI dr. Margono Gatot S., Sp.JP.

Webinar yang diselenggarakan secara daring melalui Zoom Meeting dan YouTube ini berhasil menjaring ratusan peserta dari seluruh Indonesia, yang terdiri dari dokter, perawat, bidan, nutrisionis, dan dietisien. Dalam kegiatan ini, RSPAU menghadirkan tiga narasumber berpengalaman. Letkol Kes Tri Harsono, S.TP., S.Gz., M.Gz., RD membawakan materi berjudul “Pemberian Ready to Use Therapeutic Food (RUTF) pada Balita dengan Gizi Buruk”.

Selanjutnya, dr. Citra Tarannita, Sp.A., M.Biomed. menyampaikan materi “Deteksi Dini dan Tatalaksana Gizi Buruk pada Balita”. Sementara itu, Supri Astuti, A.Md.Gz., memaparkan materi “Prosedur Pembuatan Resomal, F75, dan F100”.
Ketiga narasumber tersebut secara komprehensif membahas teori, pendekatan klinis, hingga praktik pembuatan formula gizi khusus bagi anak-anak dengan kondisi malnutrisi berat, guna meningkatkan kapasitas para tenaga kesehatan dalam memberikan layanan yang tepat sasaran dan sesuai standar WHO.

Menariknya, secara paralel, RSPAU juga menggelar workshop pemberdayaan kader melalui pelatihan Pemberian Makan Bayi dan Anak (PMBA) serta Pemberian Makanan Tambahan (PMT) untuk balita. Dalam kegiatan ini, kader Posyandu Lanud Adisutjipto dilatih membuat PMT berbasis bahan alternatif selain beras, seperti gandum dan bahan pangan lokal lainnya, sebagai upaya mendukung diversifikasi pangan nasional dan mengurangi ketergantungan terhadap konsumsi beras yang saat ini masih di atas 90 kg/kapita/tahun.“Melalui kegiatan ini, kita tidak hanya berkontribusi pada perbaikan gizi anak, tetapi juga mendorong kemandirian dan ketahanan pangan bangsa,” tambah Marsma TNI dr. Margono Gatot S., Sp.JP.
Dengan semangat transformasi dan inovasi untuk melayani yang terbaik, RSPAU terus menunjukkan komitmennya tidak hanya sebagai rumah sakit rujukan nasional dalam layanan kuratif, tetapi juga sebagai pelopor promosi kesehatan dan edukasi masyarakat. Harapannya, kegiatan ini dapat memperkuat kompetensi tenaga kesehatan dan memberdayakan masyarakat dalam memutus rantai stunting dan wasting, demi terwujudnya generasi Indonesia yang sehat, cerdas, dan tangguh. Humas RSPAU

Ka RSPAU Blak-blakan di TV Swasta Jogja, Bongkar Rahasia Transformasi Rumah Sakit Militer

Sosok di balik kemudi transformasi dan inovasi RSPAU dr. S. Hardjolukito hadir dalam tayangan inspiratif "Live Talkshow Obrolan Pagi" di RBTV, Rabu, (23/7/25). Ka RSPAU dr. S. Hardjolukito, Marsma TNI dr. Margono Gatot S., Sp.JP, membagikan kisah hidup, nilai-nilai kepemimpinan, serta semangat pengabdiannya dalam acara yang bertajuk “Cerita di Balik Jas Putih Sang Pemimpin”.

Dalam talkshow berdurasi satu jam tersebut, Marsma TNI dr. Margono Gatot S, Sp.JP., menyampaikan bagaimana perjalanan kariernya dari seorang dokter muda hingga dipercaya memimpin Rumah Sakit Pusat TNI Angkatan Udara. Dibalut gaya santai namun penuh hangat dan penuh keakraban, beliau mengungkap filosofi kepemimpinan yang ia pegang teguh: “memimpin bukan sekadar memberi perintah, tapi memberi teladan dan harapan.”

Acara yang ditayangkan secara langsung di RBTV 'Asli Jogja' ini berhasil mengangkat sisi humanis dari tentara yang berhasil memimpin rumah sakit militer. Tak hanya berbicara tentang manajemen dan visi besar RSPAU, Marsma TNI dr. Margono S, Sp.JP., juga menyinggung pentingnya pelayanan kesehatan yang tidak hanya cepat dan cermat, namun juga humanis, penuh empati.

“Setiap layanan di RSPAU harus mengedepankan nilai humanis, berempati dan penuh kasih sayang. cepat dan tepat memang penting, tapi pelayanan yang menyentuh hati jauh lebih bermakna,” ungkapnya.

Dalam kesempatan tersebut, Ka RSPAU dr. S. hardjolukito juga menyampaikan bahwa RSPAU terus berkomitmen mendukung program-program pemerintah terutama dalam bidang Kesehatan dan Ketahanan Pangan.
Dalam rangka Harbak TNI AU ke 78..RSPAU berperan serta mendukung program-progran pemerintah, dengan melaksanakan bakti sosial, antara lain: mulai dari pengiriman bantuan air bersih sebagai bentuk dari membantu ketahanan air di masyarakat. Kemudian sejalan dengan program pemerintah untuk mengatasi stunting ada pemeriksaan status gizi anak usia sekolah dan penyuluhan kesehatan tentang makanan gizi tambahan, pemeriksaan mata, THT , gigi, dan deteksi dini gangguan jantung kongenital anak sekolah.

Tak Ada Air di Gunung Kidul , RSPAU Langsung Kirim Ribuan Liter Air Selamatkan Ketahanan Kesehatan dan Pangan Warga

Ketersediaan air merupakan salah satu fondasi utama bagi ketahanan pangan dan kesehatan masyarakat. Menurut Dewan Sumber Daya Air Nasional, ketersediaan air yang merata, aman, dan berkelanjutan bukan hanya mendukung kehidupan sehari-hari, tetapi juga menjadi prasyarat penting dalam pembangunan nasional. Di tengah tantangan perubahan iklim dan tekanan terhadap sumber daya alam, akses terhadap air bersih kini menjadi isu strategis lintas sektor, termasuk pertanian, kesehatan, dan ketahanan nasional.

Sebagai bagian dari kontribusi aktif TNI Angkatan Udara dalam mendukung program prioritas pemerintah di bidang ketahanan pangan dan air, RSPAU dr. S Hardjolukito melaksanakan kegiatan pemberian bantuan air bersih kepada masyarakat di wilayah rawan kekeringan. Kegiatan ini dilaksanakan dalam rangka memperingati Hari Bakti TNI Angkatan Udara ke-78, yang menjadi momentum reflektif bagi jajaran TNI AU untuk memperkuat peran sosial dan kemanusiaan di tengah masyarakat.

Bantuan disalurkan pada hari Selasa (22/7/25) kepada warga Dusun Dondong, Kelurahan Jetis, Kecamatan Saptosari, Kabupaten Gunungkidul, sebuah daerah yang setiap tahunnya menghadapi tantangan serius dalam ketersediaan air bersih, terutama saat musim kemarau.

Sebanyak 100.000 liter liter air bersih didistribusikan langsung ke rumah-rumah warga menggunakan armada tangki, dengan melibatkan personel dari RSPAU dan kolaborasi masyarakat setempat. Kegiatan ini mendapat sambutan hangat dari warga, yang menyatakan bahwa bantuan tersebut sangat berarti untuk menunjang kebutuhan dasar mereka, termasuk memasak, mandi, mencuci, dan terutama untuk menjaga kesehatan anak-anak dan lansia.

Kepala RSPAU dr. S. Hardjolukito, Marsma TNI dr. Margono Gatot S, Sp.JP., menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan wujud nyata dari peran rumah sakit militer dalam mendukung kesehatan lingkungan dan kesejahteraan masyarakat.
"Kami meyakini bahwa kesehatan tidak hanya berbicara tentang penanganan penyakit, tetapi juga tentang memastikan ketersediaan sumber daya dasar seperti air bersih. Melalui kegiatan ini, kami tidak hanya membantu masyarakat menghadapi krisis air, tetapi juga secara tidak langsung memperkuat fondasi ketahanan pangan, karena air adalah elemen vital dalam rantai produksi pangan rumah tangga dan pertanian kecil," jelasnya.

Lebih jauh, bantuan air bersih ini merupakan bentuk dukungan RSPAU terhadap program prioritas nasional, terutama Gerakan Nasional Ketahanan Pangan, yang menempatkan akses air sebagai salah satu indikator keberhasilannya. Di daerah seperti Gunungkidul, di mana pertanian lahan kering masih menjadi andalan masyarakat, keberadaan air bersih tidak hanya menyelamatkan kehidupan sehari-hari, tetapi juga menjaga produktivitas lahan dan ketahanan ekonomi lokal.
Turut hadir pada kegiatan ini Ka RSPAU dr. S. Hardjolukito, Waka RSPAU dr. S. Hardjolukito, para pejabat di jajaran RSPAU, Ketua PIA Ardhya Garini Anak Ranting 001-05-3 RSPAU dr. Suhardi Hardjolukito beserta pengurus, Panewu Saptosari, Kapolsek Saptosari, Danposmil Saptosari dan Kepala Desa Jetis.

Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian kegiatan sosial kemanusiaan RSPAU dalam memperingati Hari Bakti TNI AU ke-78, yang setiap tahunnya membawa pesan pengabdian dan sinergi TNI dengan masyarakat. Melalui semangat bakti dan kepedulian lintas sektoral, RSPAU berkomitmen untuk terus hadir dalam menjawab kebutuhan mendesak masyarakat serta mendorong terciptanya Indonesia yang lebih tangguh dan berdaya. Humas RSPAU