Daftar Berita

Tingkatkan Kompetensimu, Ikuti Workshop ATLS Bersertifikat di RSPAU

Dalam upaya meningkatkan kompetensi tenaga medis dalam menangani kasus trauma secara cepat dan tepat, RSPAU dr. S. Hardjolukito bekerja sama dengan Konsorsium Trauma Indonesia (KONTRASIA) akan menyelenggarakan Workshop Advanced Trauma Life Support (ATLS) pada 20–21 September 2025 di RSPAU dr. S. Hardjolukito, Yogyakarta.

Workshop ini merupakan pelatihan bersertifikasi yang diselenggarakan oleh KONTRASIA, sebuah lembaga berbadan hukum dan terakreditasi Kementerian Kesehatan RI. KONTRASIA juga telah mengantongi lisensi resmi dari American College of Surgeons (ACS) untuk ATLS Master Agreement (MA) dan Course Liaison Agreement (CLA). Peserta akan mendapatkan buku ATLS resmi sebagai bagian dari pelatihan ini.

   Dengan metode classical learning, pelatihan ini menggabungkan teori dan praktik langsung melalui surgical skills station dan practical skills session, termasuk pelatihan menggunakan moulage pasien. Beberapa keterampilan utama yang akan diajarkan antara lain:

  • Airway Management termasuk teknik cricothyroidotomy
  • Breathing Techniques seperti needle thoracostomy dan penggunaan WSD
  • Circulation Management termasuk tourniquet dan intraosseous resuscitation
  • Manajemen trauma khusus seperti head trauma, pediatric trauma, dan trauma pada kehamilan

Selain itu, peserta akan mendapat pelatihan dari instruktur-instruktur berpengalaman di bidang kedaruratan dan trauma, dengan skenario realistis yang mencakup penanganan kejadian massal hingga trauma pada populasi khusus.

Biaya pendaftaran sebesar Rp 6.000.000 dapat disetorkan ke Rekening Bank Mandiri RPL 030 BLU RSPAU dr. S. Hardjolukito OPS P, nomor rekening 1370016312296. Pendaftar diwajibkan memiliki akun Satu Sehat SDMK/Plataran Sehat sebelum mengikuti pelatihan ini.

Untuk informasi dan pendaftaran, peserta dapat menghubungi:

  • Rira: 0857 1609 5095
  • Jarwati: 0856 4009 5560

Jangan lewatkan kesempatan ini untuk mengasah keterampilan penanganan trauma secara profesional dan bersertifikat, serta berkontribusi dalam peningkatan mutu pelayanan kedaruratan di Indonesia. Humas RSPAU

 

RSPAU Laksanakan Penyembelihan Hewan Kurban Idul Idha 1446 H

Dalam rangka memperingati Hari Raya Idul Adha 1446 H, RSPAU dr. S. Hardjolukito melaksanakan kegiatan penyembelihan hewan kurban pada Senin (9/6/25). Tahun ini, sebanyak 2 ekor sapi dan 5 ekor kambing dikurbankan sebagai wujud ketakwaan dan semangat berbagi terhadap sesama.

Kegiatan penyembelihan berlangsung di area lapangan RSPAU dan dihadiri oleh Wakil Kepala RSPAU dr. S. Hardjolukito dan Kabidum. Kehadiran pimpinan rumah sakit menunjukkan komitmen kuat dalam mendukung pelaksanaan ibadah kurban sebagai bagian dari pembinaan rohani personel dan kepedulian sosial.

Wakil Kepala RSPAU dr. S. Hardjolukito Kolonel Kes dr. Dedy Afandi C. N., Sp. A., M. Sc., menyampaikan bahwa momentum Idul Adha adalah saat yang tepat untuk memperkuat rasa empati dan solidaritas antar sesama.

 “Semoga hewan kurban yang telah disembelih hari ini membawa berkah bagi kita semua dan menjadi sarana untuk meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT,” ungkap Wakil Kepala RSPAU dr. S. Hardjolukito.

Seluruh daging kurban dibagikan kepada anggota RSPAU, warga sekitar, serta masyarakat yang membutuhkan, dengan harapan dapat memberikan manfaat nyata bagi lingkungan sekitar rumah sakit.


Sejalan dengan tema “Ikhlas Berkurban, Berbagi Kebahagiaan dan Memupuk Kepedulian untuk Merajut Kebersamaan”, melalui momen ini RSPAU dr. S. Hardjolukito tidak hanya menjalankan kewajiban ibadah, tetapi juga menghadirkan semangat kebersamaan dan kepedulian yang hangat di tengah lingkungan kerja dan masyarakat. Karena pada akhirnya, kurban bukan sekadar tentang daging yang dibagikan, melainkan tentang hati yang tergerak untuk saling berbagi, menguatkan, dan menyatukan. Humas RSPAU

RSPAU Wujudkan Lingkungan Bersih dan Ramah Lingkungan Lewat Implementasi Program Zero Waste TNI

Sebagai institusi pelayanan kesehatan militer yang terus bertransformasi dan berinovasi, RSPAU dr. S. Hardjolukito tak hanya berfokus pada peningkatan mutu layanan medis, namun juga memprioritaskan keberlanjutan lingkungan melalui implementasi program Zero Waste TNI. Program ini menjadi bukti komitmen rumah sakit terhadap tata kelola limbah yang bertanggung jawab, sejalan dengan arahan pimpinan TNI untuk menciptakan lingkungan kerja yang bersih, sehat, dan ramah lingkungan di seluruh satuan kerja.

Program Zero Waste TNI adalah gerakan strategis untuk mengurangi timbulan sampah dari aktivitas operasional rumah sakit, baik sampah medis maupun nonmedis. Melalui pendekatan 3R (Reduce, Reuse, Recycle), RSPAU mengembangkan sistem yang terintegrasi mulai dari sumber sampah hingga pengelolaan akhir secara aman dan ramah lingkungan.

Langkah awal yang dilakukan oleh RSPAU adalah pemetaan jenis limbah dan pola timbulannya di masing-masing unit kerja. Hasil analisis ini menjadi dasar perumusan kebijakan internal rumah sakit yang mendukung pengurangan sampah dari hulu. Misalnya, penggunaan bahan sekali pakai mulai dikurangi secara selektif, digantikan dengan alternatif yang dapat dipakai ulang, serta penerapan sistem digitalisasi dalam administrasi untuk menekan konsumsi kertas.

Pada aspek pengelolaan limbah medis, RSPAU berpegang pada regulasi Kementerian Kesehatan dan Kementerian Lingkungan Hidup. Limbah infeksius dan B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun) ditangani secara khusus menggunakan insinerator bersertifikat dan prosedur pemusnahan yang ketat. Selain itu, pelatihan rutin tentang penanganan limbah bagi tenaga kesehatan dan cleaning service menjadi bagian dari sistem jaminan mutu lingkungan rumah sakit.

Sementara itu, untuk sampah domestik dan nonmedis seperti plastik, kertas, dan makanan, RSPAU menerapkan sistem pemilahan di sumber, penyediaan tempat sampah terpisah, serta kerja sama dengan mitra daur ulang bersertifikasi. Limbah organik yang dapat dimanfaatkan sebagai kompos juga mulai diolah dalam skala terbatas di lingkungan rumah sakit.

“Kesadaran lingkungan adalah budaya yang harus dibangun, bukan sekadar program sesaat. Maka kami libatkan seluruh civitas hospitalia dari tenaga medis, paramedis, staf administrasi, hingga petugas kebersihan untuk menjadi bagian dari gerakan ini,” ungkap Paahli Bid. K3 dan Waspada Bencana RSPAU dr. S. Hardjolukito Kolonel Kes Wartono, A. Md.

Implementasi Zero Waste TNI telah memberikan dampak positif yang signifikan. Lingkungan rumah sakit kini terasa lebih bersih, tertata, dan sehat. Volume sampah yang masuk ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) berhasil ditekan, sementara jumlah limbah yang berhasil didaur ulang terus meningkat.

Lebih dari itu, program ini juga memperkuat citra RSPAU sebagai rumah sakit militer yang unggul dan peduli terhadap keberlanjutan. Dalam era globalisasi dan keterbukaan informasi, citra institusi tidak lagi hanya dinilai dari aspek teknis medis, tetapi juga sejauh mana rumah sakit mampu memberikan kontribusi positif terhadap lingkungan dan masyarakat.

Sebagai institusi milik TNI Angkatan Udara, RSPAU juga diharapkan menjadi role model dalam penerapan kebijakan hijau di lingkungan militer. Program Zero Waste TNI menjadi bukti bahwa rumah sakit militer pun mampu berinovasi untuk masa depan yang lebih hijau, tanpa mengurangi ketatnya standar keamanan dan keselamatan dalam pelayanan kesehatan.

Keberhasilan awal program ini menjadi fondasi untuk pengembangan kebijakan jangka panjang. RSPAU merencanakan perluasan inisiatif hijau seperti penggunaan energi terbarukan, efisiensi air, serta pembangunan green infrastructure yang mendukung kenyamanan dan efisiensi.

Ke depan, RSPAU juga membuka ruang kolaborasi dengan lembaga-lembaga lingkungan hidup, universitas, dan masyarakat dalam pengembangan riset dan inovasi pengelolaan limbah rumah sakit. Edukasi berkelanjutan juga akan difokuskan pada pembentukan agen perubahan (agent of change) lingkungan di setiap bagian rumah sakit.

Dengan semangat transformasi dan inovasi, RSPAU berkomitmen untuk terus memperkuat peran sebagai rumah sakit militer modern yang tidak hanya berorientasi pada kesembuhan pasien, tetapi juga pada keberlanjutan ekosistem tempat rumah sakit berada. Humas RSPAU

 

Selamat Bergabung dr. Yuwinda Prima A, Sp.JP

Selamat Bergabung dr. Yuwinda Prima A, Sp.JP ✨

RSPAU dr. S. Hardjolukito kembali menghadirkan Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah baru untuk memperkuat layanan kesehatan terbaik bagi Sobat Hardjo.
Dengan kehadiran dokter baru ini, kami siap memberikan penanganan lebih optimal untuk kesehatan jantung Anda.

❤️Jadwal praktik:
???? Senin & Jumat
⏰ Pukul 11.00 – 15.00 WIB

???? Rabu
⏰ Pukul 12.00 – 16.00 WIB

✅️ Melayani pasien BPJS dan UMUM

Percayakan kesehatan jantung Anda kepada ahlinya di RSPAU dr. S. Hardjolukito????

Selamat Bergabung drg. Poerwati Soetji Rahajoe, Sp.BMM(K), Subsp.T.M.T.M.J(K), Ph.D

Selamat Bergabung drg. Poerwati Soetji Rahajoe, Sp.BMM(K), Subsp.T.M.T.M.J(K), Ph.D ✨

RSPAU dr. S. Hardjolukito kembali memperkuat layanan kesehatan dengan kehadiran Dokter Gigi Spesialis Bedah Mulut. Kini Sobat Hardjo dapat memperoleh penanganan terbaik untuk masalah bedah mulut secara profesional dan humanis.

???? Jadwal praktek:
???? Senin & Kamis
⏰ Pukul 08.00 – 13.00 WIB

✅️ Melayani pasien BPJS dan UMUM

Percayakan perawatan bedah mulut Anda kepada ahlinya di RSPAU dr. S. Hardjolukito ????

Wujud Syukur dan Kepedulian, RSPAU Serahkan Hewan Kurban kepada Panitia

Dalam rangka menyambut Hari Raya Idul Adha 1446 H, RSPAU dr. S. Hardjolukito melaksanakan kegiatan penyerahan hewan kurban kepada Panitia Kurban RSPAU. Penyerahan dilakukan dalam suasana khidmat dan penuh kebersamaan, usai pelaksanaan apel bersama yang diikuti oleh seluruh anggota RSPAU, pada Kamis pagi (5/6/25) di lapangan RSPAU.


Satu ekor sapi yang merupakan hasil dari partisipasi anggota RSPAU diserahkan secara simbolis oleh Wakil Kepala RSPAU dr. S. Hardjolukito Kolonel Kes dr. Dedy Afandi C. N., Sp. A., M. Sc., kepada Ketua Panitia Kurban RSPAU Letkol Adm Suryanto, S.Sos., M.Pd., sebagai wujud kepedulian sosial dan semangat berbagi keluarga besar RSPAU kepada sesama, khususnya bagi yang membutuhkan.


Dalam sambutannya, Wakil Kepala RSPAU dr. S. Hardjolukito Kolonel Kes dr. Dedy Afandi C. N., Sp. A., M. Sc. menyampaikan bahwa pelaksanaan kurban bukan hanya ritual tahunan, tetapi juga momentum untuk memperkuat nilai-nilai keikhlasan, gotong royong, dan kepedulian sosial antar anggota.


"Melalui kegiatan ini, kita tidak hanya meneladani ketakwaan Nabi Ibrahim AS dan keikhlasan Nabi Ismail AS, tetapi juga mempererat tali persaudaraan dan soliditas di lingkungan RSPAU. Kurban ini menjadi wujud nyata semangat kita dalam berbagi dan memberi manfaat bagi sesama, terutama di lingkungan sekitar rumah sakit," kata Wakil Kepala RSPAU dr. S. Hardjolukito.


Beliau juga mengapresiasi partisipasi anggota RSPAU yang telah menyisihkan sebagian rezekinya untuk berkurban serta kerja keras panitia dalam mempersiapkan pelaksanaan kurban tahun ini.

Adapun penyembelihan hewan kurban direncanakan akan dilaksanakan pada hari Senin, 9 Juni 2025, bertempat di RSPAU. Selanjutnya, daging kurban akan didistribusikan kepada yang berhak menerima, baik dari kalangan internal RSPAU maupun masyarakat sekitar.


Mengusung tema “Ikhlas Berkurban, Berbagi Kebahagiaan Dan Memupuk Kepedulian Untuk Merajut Kebersamaan”, kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian peringatan Idul Adha di RSPAU dan menjadi tradisi tahunan yang terus dijaga untuk memperkuat nilai-nilai spiritual, sosial, dan kebersamaan di lingkungan rumah sakit. Humas RSPAU

RSPAU Laksanakan Asistensi PEKPPP Tahun 2025 oleh Pus RB TNI

RSPAU dr. S. Hardjolukito melaksanakan kegiatan Asistensi Penilaian Evaluasi Kinerja Penyelenggaraan Pelayanan Publik (PEKPPP) Tahun 2025 yang diselenggarakan oleh Pusat Reformasi Birokrasi (Pus RB) TNI. Kegiatan ini dilaksanakan sebagai tindak lanjut dari penunjukan RSPAU sebagai Satuan Kerja (Satker) Unit Lokus Evaluasi (ULE) PEKPPP Tahun 2025, menjadikannya salah satu satker yang dipercaya untuk menjadi contoh dalam penerapan pelayanan publik yang berkualitas di lingkungan TNI.

Tim asistensi dari Pus RB TNI hadir langsung untuk memberikan pendampingan teknis dan evaluatif yaitu Wakil Kepala Pusat Reformasi Birokrasi TNI (Wakapus RB TNI) Kolonel Inf Tyas Koesharjadi selaku pimpinan tim asistensi, Paban VI/RB Srenaau Kolonel Adm Zainal Abidin, dan Kabid yanlik Pus RB TNI Kolonel Arh Pulung Patria Daga, yang turut memberikan arahan dan masukan strategis dalam proses asistensi. Kegiatan ini diikuti oleh evaluator internal RSPAU, Ketua Pokja PEKPPP, serta seluruh anggota Kelompok Kerja (Pokja) PEKPPP, yang terdiri dari enam aspek penilaian, yaitu Aspek Pelayanan Publik, Aspek Sumber Daya Manusia (SDM), Aspek Sarana dan Prasarana, Aspek Sistem Informasi Pelayanan Publik, Aspek Pengelolaan Pengaduan, Aspek Inovasi Pelayanan Publik dan tim survei kepuasan masyarakat. 

Wakapus RB TNI dalam arahannya menyampaikan bahwa asistensi ini bertujuan untuk memastikan setiap pokja memahami indikator yang dinilai dan mampu mempersiapkan data dukung sesuai dengan standar evaluasi PEKPPP. Beliau juga menekankan pentingnya sinergi antar-aspek untuk mewujudkan pelayanan publik yang terintegrasi dan berorientasi pada kepuasan pengguna layanan.

Wakil kepala RSPAU dr. S. Hardjolukito menyampaikan terima kasih atas kepercayaan yang diberikan dan menyatakan kesiapan seluruh jajaran untuk mengikuti proses evaluasi dengan optimal. 

“Kami berkomitmen penuh untuk terus memperbaiki kualitas pelayanan, membangun budaya pelayanan prima, dan menjadi rumah sakit militer yang unggul dan responsif terhadap kebutuhan publik,” ungkap Waka RSPAU dr. S. Hardjolukito.

Pada kesempatan ini, Kolonel Arh Pulung Patria Daga memberikan masukan konstruktif terkait kelengkapan, konsistensi, dan relevansi dokumen pendukung yang menjadi bagian dari enam aspek penilaian PEKPPP. Beliau menekankan pentingnya setiap dokumen dapat menggambarkan capaian nyata di lapangan, sesuai dengan indikator evaluasi yang telah ditetapkan oleh Kementerian PANRB.


Melalui kegiatan ini, RSPAU tidak hanya mendapatkan pembinaan langsung dari Pus RB TNI, tetapi juga kesempatan untuk memperkuat kesiapan internal dalam menghadapi proses penilaian PEKPPP Tahun 2025 secara menyeluruh. Humas RSPAU

RSPAU Laksanakan Verifikasi Trust Mark BPJS Kesehatan Tahun 2025

Sebagai bagian dari penguatan kualitas pelayanan rumah sakit dalam mendukung program Jaminan Kesehatan Nasional-Kartu Indonesia Sehat (JKN-KIS), RSPAU dr. Suhardi Hardjolukito melaksanakan kegiatan Verifikasi Trust Mark Tahun 2025 yang diselenggarakan oleh BPJS Kesehatan, pada hari Selasa, (3/6/25) di ruang Garuda Satu RSPAU.

Kegiatan ini merupakan tindak lanjut atas registrasi dan pengisian self-assessment Trust Mark yang telah dilakukan sebelumnya oleh RSPAU, sebagai bentuk partisipasi aktif rumah sakit dalam implementasi Transformasi Digital BPJS Kesehatan. Trust Mark sendiri merupakan sistem penilaian berbasis digital yang dikembangkan oleh BPJS Kesehatan untuk memastikan fasilitas kesehatan rujukan tingkat lanjutan (FKRTL) memberikan pelayanan yang memenuhi prinsip aksesibilitas, efektivitas, efisiensi, dan kepuasan pasien.

Dalam pelaksanaan verifikasi, BPJS Kesehatan menurunkan tim verifikator dari Kedeputian Wilayah VI, yang dipimpin oleh Kepala Bagian IT Wilayah VI BPJS Kesehatan, Bapak Bonaventura Andry Sigmada. Verifikasi ini melibatkan diskusi, penilaian dokumen, dan tinjauan terhadap implementasi pelayanan berbasis transformasi digital di lingkungan RSPAU.

Personel yang turut terlibat dalam kegiatan verifikasi ini berasal dari unsur manajemen rumah sakit, serta perwakilan dari Bagian SDM, Bagian Pengadaan dan Umum, serta Bagian Teknologi Informasi. Masing-masing bagian diminta untuk menyiapkan dokumen dan bukti pendukung sesuai dengan isian self-assessment yang telah dilaporkan sebelumnya melalui portal Trust Mark.

Wakil Kepala RSPAU dr. S. Hardjolukito Kolonel Kes dr. Dedy Afandi C. N., Sp. A., M. Sc., dalam sambutannya menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk keseriusan RSPAU dalam menyelaraskan diri dengan kebijakan nasional dan meningkatkan mutu pelayanan kepada peserta JKN-KIS.

“Sebagaimana kita ketahui bersama, program BPJS Kesehatan Trust Mark adalah bagian dari strategi besar transformasi mutu layanan yang dicanangkan oleh BPJS Kesehatan untuk memastikan bahwa rumah sakit mitra dapat menyediakan layanan yang cepat, tepat, akurat, dan memuaskan bagi peserta JKN-KIS. RSPAU menyambut baik proses verifikasi ini sebagai sarana refleksi dan evaluasi demi mewujudkan layanan yang semakin akuntabel, efisien, dan adaptif terhadap kebutuhan masyarakat,” ungkap Wakil Kepala RSPAU dr. S. Hardjolukito.

Dengan mengikuti verifikasi Trust Mark, RSPAU berharap dapat memperoleh penguatan tata kelola mutu dan masukan strategis dari BPJS Kesehatan, agar terus mampu menjadi rumah sakit rujukan yang unggul, profesional, dan terpercaya—baik bagi prajurit TNI AU maupun masyarakat umum. Humas RSPAU

 

RSPAU Gelar Upacara Peringatan Hari Kebangkitan Nasional ke-117

RSPAU dr. S. Hardjolukito melaksanakan upacara bendera dalam rangka memperingati Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) ke-117 pada Selasa pagi (20/5/25) di Lapangan RSPAU. Upacara ini dipimpin langsung oleh Kepala RSPAU dr. S. Hardjolukito, Marsma TNI dr. Aplin Ismunanto, Sp.B., dan diikuti oleh seluruh civitas hospitalia RSPAU dengan khidmat dan semangat nasionalisme yang tinggi.

Mengusung tema "Bangkit Bersama Wujudkan Indonesia Kuat", upacara ini menjadi momentum reflektif bagi seluruh angota RSPAU untuk meneladani semangat persatuan dan kebangkitan bangsa yang telah digelorakan sejak berdirinya Budi Utomo pada 20 Mei 1908 silam.

Dalam amanatnya, Kepala RSPAU dr. S. Hardjolukito membacakan sambutan resmi dari Menteri Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia. Dalam sambutan tersebut disampaikan bahwa peringatan Harkitnas bukan sekedar mengenang tanggal dalam kalender nasional, namun merupakan pengingat akan semangat kebangkitan kesadaran nasional, keberanian, dan semangat untuk menolak penjajahan serta membangun bangsa dengan kekuatan sendiri.

“117 tahun yang lalu, di tengah tekanan kolonialisme, lahir kesadaran baru yang menyulut api perubahan. Melalui Budi Utomo, bangsa ini membangun keyakinan bahwa kemajuan harus bersumber dari kekuatan sendiri,” kata Kepala RSPAU dr. S. Hardjolukito saat membacakan sambutan.

Sambutan tersebut juga menyoroti tantangan global yang semakin kompleks, mulai dari disrupsi teknologi, krisis pangan global, hingga ketegangan geopolitik dan ancaman terhadap kedaulatan digital. Dalam menghadapi semua itu, Indonesia diharapkan mampu tampil sebagai trusted partner di kancah global dengan tetap berpegang pada prinsip politik luar negeri yang bebas dan aktif.

Tak hanya di tingkat global, semangat kebangkitan juga terlihat dalam pembangunan nasional, termasuk di bidang kesejahteraan sosial, kesehatan, ekonomi, dan pengembangan sumber daya manusia. Program-program seperti makan bergizi gratis, layanan pemeriksaan kesehatan gratis, hingga penguatan pelatihan vokasi dan talenta digital disebut sebagai fondasi dasar untuk membangun kebangkitan nasional yang berkelanjutan.

Di akhir sambutan, ditekankan pentingnya kontribusi seluruh elemen bangsa untuk bersama-sama mewujudkan Indonesia yang kuat dan mandiri, termasuk di antaranya institusi pelayanan publik seperti rumah sakit TNI yang berperan dalam menjaga kesehatan masyarakat dan prajurit.

Upacara berlangsung dengan tertib dan penuh makna. Semangat kebangkitan nasional yang tercermin dalam amanat dan kehadiran seluruh civitas hospitalia menjadi pengingat bahwa RSPAU sebagai institusi di bidang kesehatan militer dan publik, turut berperan aktif dalam mewujudkan Indonesia yang kuat, sehat, dan berdaulat. Humas RSPAU

 

 

Edukasi Pranikah untuk generasi sehat

Pernikahan adalah sebuah peristiwa sakral yang bukan hanya menyatukan dua hati, tetapi juga dua latar belakang kesehatan, dua silsilah genetik, serta dua harapan untuk melahirkan keturunan yang sehat dan bahagia. Sayangnya, banyak pasangan muda yang terlalu fokus pada aspek teknis dan seremonial pernikahan, namun mengabaikan satu hal yang sangat penting: screening kesehatan pranikah. Menyikapi hal tersebut, Rumah Sakit Pusat Angkatan Udara (RSPAU) dr. Suhardi Hardjolukito meluncurkan kampanye edukatif bertajuk “Mau Nikah Tapi Belum Screening Kesehatan? Jangan Ya Dek Ya...”, yang bertujuan membangun kesadaran publik, khususnya generasi muda, akan pentingnya deteksi dini kesehatan sebelum menikah.

Screening kesehatan pranikah adalah langkah preventif yang penting dilakukan oleh calon pengantin untuk memastikan kondisi kesehatan masing-masing dalam keadaan optimal. Pemeriksaan ini biasanya mencakup tes darah lengkap, golongan darah dan rhesus, deteksi penyakit menular seperti HIV, hepatitis B dan C, serta skrining genetik untuk mendeteksi kemungkinan penyakit bawaan seperti thalassemia. Pemeriksaan kesuburan dan kesehatan organ reproduksi juga sering disertakan sebagai bagian dari paket layanan. Tujuan utamanya adalah mencegah penularan penyakit kepada pasangan maupun calon bayi kelak, serta membantu pasangan menyiapkan langkah antisipasi medis bila ditemukan kondisi yang memerlukan perhatian khusus.

Sayangnya, kesadaran untuk melakukan pemeriksaan pranikah di Indonesia masih tergolong rendah. Banyak calon pengantin merasa hal tersebut tidak penting, malu untuk membahasnya, atau bahkan tidak mengetahui sama sekali tentang manfaatnya. Di sinilah peran edukasi publik menjadi krusial. RSPAU mengambil langkah strategis dengan menghadirkan kampanye yang komunikatif, segar, dan menyentuh kalangan muda. RSPAU menyediakan layanan pemeriksaan pranikah yang komprehensif dan terpercaya, ditunjang oleh fasilitas laboratorium modern dan tenaga kesehatan berkompeten.

Tak dapat dipungkiri, banyak kasus kesehatan rumah tangga di kemudian hari yang sebenarnya bisa dicegah lebih awal jika calon pasangan melakukan pemeriksaan pranikah. Beberapa pasangan mendapati ketidakcocokan rhesus darah yang bisa menyebabkan komplikasi pada kehamilan. Ada pula yang baru mengetahui bahwa salah satu pasangan mengidap penyakit menular kronis, atau memiliki riwayat penyakit genetik yang berpotensi diturunkan. Tanpa kesiapan dan pengetahuan yang cukup, kondisi tersebut bisa memicu ketegangan dalam pernikahan, gangguan kesehatan pada keturunan, hingga masalah sosial yang serius.

Melalui program edukasi ini, RSPAU tidak hanya menyampaikan pesan kesehatan, tetapi juga mengajak masyarakat untuk lebih bijak dalam merencanakan masa depan keluarga. Karena keluarga yang sehat dimulai dari pernikahan yang direncanakan dengan baik—tidak hanya dari sisi logistik dan spiritual, tetapi juga dari aspek kesehatan jasmani dan genetik. Maka, sebelum mengikat janji suci di pelaminan, pastikan tubuh dan pikiran berada dalam kondisi terbaik. Jadikan screening kesehatan pranikah sebagai bentuk cinta dan tanggung jawab, bukan hanya untuk pasangan, tetapi juga untuk anak-anak dan generasi selanjutnya.

RSPAU dr. Suhardi Hardjolukito hadir sebagai mitra kesehatam terpercaya bagi para calon pengantin dalam mewujudkan pernikahan yang sehat dan berkualitas. Dengan semangat pelayanan yang tulus, adaptif terhadap perubahan zaman, serta komitmen pada pelayanan yang profesional dan humanis, RSPAU terus berinovasi menghadirkan layanan yang tidak hanya menyembuhkan, tetapi juga mencegah dan melindungi. Mari menciptakan masyarakat Indonesia yang lebih sehat, sadar akan pentingnya pencegahan, dan siap membangun keluarga masa depan yang bahagia tanpa dibayangi masalah kesehatan yang bisa dicegah sejak awal. Humas RSPAU

 Pernikahan adalah sebuah peristiwa sakral yang bukan hanya menyatukan dua hati, tetapi juga dua latar belakang kesehatan, dua silsilah genetik, serta dua harapan untuk melahirkan keturunan yang sehat dan bahagia. Sayangnya, banyak pasangan muda yang terlalu fokus pada aspek teknis dan seremonial pernikahan, namun mengabaikan satu hal yang sangat penting: screening kesehatan pranikah. Menyikapi hal tersebut, Rumah Sakit Pusat Angkatan Udara (RSPAU) dr. Suhardi Hardjolukito meluncurkan kampanye edukatif bertajuk “Mau Nikah Tapi Belum Screening Kesehatan? Jangan Ya Dek Ya...”, yang bertujuan membangun kesadaran publik, khususnya generasi muda, akan pentingnya deteksi dini kesehatan sebelum menikah.

Screening kesehatan pranikah adalah langkah preventif yang penting dilakukan oleh calon pengantin untuk memastikan kondisi kesehatan masing-masing dalam keadaan optimal. Pemeriksaan ini biasanya mencakup tes darah lengkap, golongan darah dan rhesus, deteksi penyakit menular seperti HIV, hepatitis B dan C, serta skrining genetik untuk mendeteksi kemungkinan penyakit bawaan seperti thalassemia. Pemeriksaan kesuburan dan kesehatan organ reproduksi juga sering disertakan sebagai bagian dari paket layanan. Tujuan utamanya adalah mencegah penularan penyakit kepada pasangan maupun calon bayi kelak, serta membantu pasangan menyiapkan langkah antisipasi medis bila ditemukan kondisi yang memerlukan perhatian khusus.

Sayangnya, kesadaran untuk melakukan pemeriksaan pranikah di Indonesia masih tergolong rendah. Banyak calon pengantin merasa hal tersebut tidak penting, malu untuk membahasnya, atau bahkan tidak mengetahui sama sekali tentang manfaatnya. Di sinilah peran edukasi publik menjadi krusial. RSPAU mengambil langkah strategis dengan menghadirkan kampanye yang komunikatif, segar, dan menyentuh kalangan muda. RSPAU menyediakan layanan pemeriksaan pranikah yang komprehensif dan terpercaya, ditunjang oleh fasilitas laboratorium modern dan tenaga kesehatan berkompeten.

Tak dapat dipungkiri, banyak kasus kesehatan rumah tangga di kemudian hari yang sebenarnya bisa dicegah lebih awal jika calon pasangan melakukan pemeriksaan pranikah. Beberapa pasangan mendapati ketidakcocokan rhesus darah yang bisa menyebabkan komplikasi pada kehamilan. Ada pula yang baru mengetahui bahwa salah satu pasangan mengidap penyakit menular kronis, atau memiliki riwayat penyakit genetik yang berpotensi diturunkan. Tanpa kesiapan dan pengetahuan yang cukup, kondisi tersebut bisa memicu ketegangan dalam pernikahan, gangguan kesehatan pada keturunan, hingga masalah sosial yang serius.

Melalui program edukasi ini, RSPAU tidak hanya menyampaikan pesan kesehatan, tetapi juga mengajak masyarakat untuk lebih bijak dalam merencanakan masa depan keluarga. Karena keluarga yang sehat dimulai dari pernikahan yang direncanakan dengan baik—tidak hanya dari sisi logistik dan spiritual, tetapi juga dari aspek kesehatan jasmani dan genetik. Maka, sebelum mengikat janji suci di pelaminan, pastikan tubuh dan pikiran berada dalam kondisi terbaik. Jadikan screening kesehatan pranikah sebagai bentuk cinta dan tanggung jawab, bukan hanya untuk pasangan, tetapi juga untuk anak-anak dan generasi selanjutnya.

RSPAU dr. Suhardi Hardjolukito hadir sebagai mitra kesehatam terpercaya bagi para calon pengantin dalam mewujudkan pernikahan yang sehat dan berkualitas. Dengan semangat pelayanan yang tulus, adaptif terhadap perubahan zaman, serta komitmen pada pelayanan yang profesional dan humanis, RSPAU terus berinovasi menghadirkan layanan yang tidak hanya menyembuhkan, tetapi juga mencegah dan melindungi. Mari menciptakan masyarakat Indonesia yang lebih sehat, sadar akan pentingnya pencegahan, dan siap membangun keluarga masa depan yang bahagia tanpa dibayangi masalah kesehatan yang bisa dicegah sejak awal. Humas RSPAU

 

 

 

 

 

 

 

 

 

<!--[if gte vml 1]> <![endif]--><!--[if !vml]-->

<!--[endif]--> 

 

 

 

 

 

 

 

Saatnya Menghentikan Hubungan Toksik dengan Rokok

Rokok bukanlah sekadar lintingan tembakau yang dibakar. Rokok mengandung lebih dari 7.000 bahan kimia berbahaya, dan di antaranya lebih dari 70 zat bersifat karsinogenik atau penyebab kanker. Ketika seseorang merokok, ia tidak hanya menghisap nikotin untuk memuaskan kecanduan, tetapi juga menelan perlahan ancaman terhadap paru-paru, jantung, otak, bahkan sistem reproduksi. Merokok bukan hanya kebiasaan, tapi bentuk perlahan-lahan menyakiti tubuh sendiri, tanpa terasa hingga akhirnya tubuh tak lagi mampu bertahan.

Data dari WHO (World Health Organization) menunjukkan bahwa merokok membunuh lebih dari 8 juta orang setiap tahun di seluruh dunia. Dari angka itu, sekitar 1,2 juta adalah perokok pasif—orang-orang yang tidak merokok, namun menghirup asap rokok orang lain. Artinya, rokok tak hanya menyakiti diri sendiri, tapi juga orang-orang terdekat: pasangan, anak-anak, orang tua, teman kerja, bahkan masyarakat umum. Jadi, ketika seseorang memilih untuk berhenti merokok, ia tidak hanya menyelamatkan dirinya, tapi juga menyelamatkan orang lain.

Berhenti merokok bukan hal yang mudah, apalagi jika sudah menjadi kebiasaan bertahun-tahun. Namun, bukan berarti mustahil. Langkah awalnya adalah kesadaran bahwa merokok bukanlah bagian dari gaya hidup sehat, dan bahwa tubuh kita layak untuk dicintai dan dijaga. Tubuh yang bebas dari nikotin memiliki kemampuan luar biasa untuk memulihkan diri. Dalam waktu 20 menit setelah berhenti merokok, denyut jantung mulai kembali normal. Dalam 12 jam, kadar karbon monoksida dalam darah turun. Dalam waktu beberapa minggu, fungsi paru-paru membaik, dan risiko serangan jantung mulai menurun.

Berhenti merokok adalah bentuk self-love. Sama seperti ketika kita meninggalkan hubungan toksik yang merusak jiwa, meninggalkan rokok adalah cara kita mengatakan: “Saya layak hidup sehat.” Ini bukan soal larangan, bukan pula sekadar tuntutan kesehatan, melainkan sebuah keputusan penuh cinta kepada tubuh yang telah bekerja keras setiap hari menopang aktivitas kita.

Sayangnya, banyak orang masih terjebak dalam persepsi bahwa merokok adalah cara menghilangkan stres, bersosialisasi, atau bahkan terlihat “dewasa.” 

Lansia Sehat, Lansia Bahagia: Membangun Kualitas Hidup di Usia Senja

Kualitas Hidup

Quality of life adalah suatu terminologi yang menunjukkan tentang kesehatan, fisik, sosial dan emosi seseorang serta kemampuannya melaksanakan tugas sehari-hari (Cummins dalam Imanda, 2016). Kualitas hidup didefinisikan sebagai kondisi hidup yang baik yang bersama-sama dengan kesejahteraan subjektif positif (Zapf dalam Noll, 2012). Kualitas hidup didefinisikan sebagai hubungan antara dua elemen subjektif atau berbasis manusia dan satu set keadaan obyektif (Noll, 2012). Jadi kualitas hidup adalah persepsi atau pandangan subjektif individu terhadap kehidupannya dalam konteks budaya dan nilai yang dianut oleh individu dalam hubungannya dengan tujuan personal, harapan, standar hidup dan perhatian yang mempengaruhi kemampuan fisik, psikologis, tingkat kemandirian, hubungan sosial dan lingkungan   

Lansia

Lansia (lanjut usia) adalah proses alamiah yang terjadi pada seseorang karena telah memasuki tahap akhir dari siklus hidupnya. Fase ini ditandai dengan perubahan-perubahan yang memengaruhi fungsi dan kemampuan tubuh secara keseluruhan, yang dikenal sebagai proses penuaan atau aging process.

 

Menurut Undang-Undang No.23 Tahun 1992 tentang Kesehatan, lansia adalah seseorang yang, karena usianya, mengalami perubahan biologis, fisik, kejiwaan, dan sosial. Perubahan ini berdampak pada berbagai aspek kehidupan, termasuk kesehatan. Oleh karena itu, kesehatan lansia memerlukan perhatian khusus agar mereka dapat terus hidup secara produktif dan berperan aktif dalam pembangunan, sesuai dengan kemampuan yang dimiliki.

 

Menurut Fatmah (2010), lansia merupakan proses alamiah yang terjadi secara berkesinambungan pada manusia dimana ketika menua seseorang akan mengalami beberapa perubahan yang pada akhirnya akan mempengaruhi keadaan fungsi dan kemampuan seluruh tubuh. Sedangkan menurut Wahyudi (2008), lansia adalah seseorang yang telah memasuki tahapan akhir dari fase kehidupan. Kelompok yang dikategorikan lansia ini akan mengalami suatu proses yang disebut Aging Process atau proses penuaaan.

 

Menurut Maryam (2008), terdapat beberapa istilah lanjut usia, antara lain manusia lanjut usia (manula), manusia usia lanjut (lansia), usia lanjut (usila), serta ada yang menyebut golongan lanjut umur (glamur). Menurut Undang-undang No.13 tahun 1998 tentang kesejahteraan lanjut usia, seseorang dikatakan lanjut usia apabila telah mencapai usia 60 (enam puluh tahun) ke atas. Sedangkan menurut World Health Organization (WHO) mengatakan bahwa masa lansia dibagi menjadi 4 golongan, yaitu usia pertengahan (Middle Age), yaitu kelompok dengan rentang usia 45-59 tahun, usia lanjut (Elderly), yaitu kelompok dengan rentang usia antara 60-70 tahun, lanjut usia tua (Old), yaitu kelompok dengan rentang usia antara 75-90 tahun, dan usia sangat tua (Very Old) kelompok dengan rentang usia 90 tahun ke atas.

Adanya peningkatan populasi lanjut usia (lansia) dikarenakan menurunnya angka kematian serta penurunan jumlah kelahiran, menyebabkan terjadinya perubahan struktur demografi. Seperti Negara-negara lain dikawasan Asia Pasifik, Indonesia akan mengalami penuaan penduduk dengan amat sangat cepat. Populasi lansia yang meningkat menuntut pemerintah untuk mengambil kebijakan dan program yang ditujukan kepada lansia, agar mereka tetap dapat memiliki peran dalam masyarakat. Kebijakan tersebut bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup lansia sehingga mereka dapat menjalani masa tua dengan sehat dan bahagia.

Upaya kesehatan lansia dimulai sejak seseorang mencapai usia 60 tahun, dengan tujuan menjaga kesehatan agar tetap hidup sehat, berkualitas, dan produktif. Upaya ini mencakup pemeliharaan kebersihan diri, konsumsi gizi seimbang, aktivitas fisik rutin, kehidupan sosial yang aktif, kesempatan berkarya, serta lingkungan yang ramah bagi lansia.

Hal penting lainnya adalah imunisasi untuk mencegah penyakit dan deteksi dini termasuk skrining. Upaya rehabilitatif, seperti fisioterapi, psikoterapi, dan pemberian obat-obatan, juga diberikan sebagai lanjutan dari pelayanan kuratif. Sementara itu, upaya paliatif bertujuan mengurangi keluhan yang dialami lansia, agar mereka dapat menjalani akhir kehidupan dengan bermartabat.

Kesehatan fisik dan mental menjadi faktor penting yang perlu diperhatikan pada lansia. Orang yang sudah memasuki masa lansia perlu memperhatikan asupan makanan yang sehat dan seimbang serta menjaga berat badan agar tidak terlalu tinggi atau rendah. Selain itu, lansia juga perlu melakukan aktivitas fisik yang teratur, seperti jalan kaki atau olahraga ringan, untuk menjaga kesehatan jantung, paru-paru, otot, dan tulang.

Pencegahan penyakit juga krusial pada lansia, mengingat risiko terhadap penyakit jantung, diabetes, dan stroke meningkat seiring bertambahnya usia. Oleh karena itu, lansia perlu menghindari faktor risiko seperti merokok, konsumsi alkohol, dan pola makan tidak sehat. Pemeriksaan kesehatan berkala juga penting untuk mendeteksi dini kondisi kesehatan yang memerlukan perhatian khusus seperti pemeriksaan kesehatan mata, gigi, dan telinga.

Kesehatan mental tidak kalah pentingnya. Lansia harus waspada terhadap tanda-tanda depresi dan segera mencari dukungan jika diperlukan. Kesehatan fisik dan mental yang terjaga akan meningkatkan kualitas hidup lansia dan memperpanjang harapan hidup mereka.

Perawatan jangka panjang diperlukan bagi lansia yang membutuhkan bantuan dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari akibat keterbatasan fisik, mental, atau intelektual. Peran keluarga sangat penting dalam mendukung lansia untuk tetap sehat, aktif, dan terlibat dalam kegiatan sosial, serta dalam memberikan pendampingan bagi mereka yang membutuhkan perawatan jangka panjang.

Upaya Peningkatan Kualitas Hidup Lansia

      Peningkatan kualitas hidup lansia dapat dicapai dengan menerapkan tujuh dimensi lansia tangguh, yang diharapkan dapat mencegah kerentanan lansia yang ditimbulkan oleh berbagai perubahan yang dialami, meliputi:

<!--[if !supportLists]-->1. <!--[endif]--> Dimensi Spiritual Melalui pembinaan dimensi spiritual, diharapkan akan mengurangi kecemasan yang dirasakan oleh lansia. Melalui bimbingan agama, Lansia melatih diri untuk bisa mengetahui arti dan tujuan hidupnya, mencintai dan merasa dicintai serta memiliki rasa keterikatan dengan Tuhan, dan pemenuhan kebutuhan    untuk    mendapatkan aman.

<!--[if !supportLists]-->2.    <!--[endif]-->Dimensi Intelektual memberi dan Lansia harus terus menstimulasi kerja otak untuk mengantisipasi melambatnya kerja otak, serta meminimalisir timbulnya gangguan karena menurunnya fungsi intelektual. Dengan menjaga dimensi intelektual diharapkan lansia terhindar dari macam-macam penurunan fungsi intelektual. Menstimulasi kerja otak bisa dilakukan dengan menulis, membaca, bermain alat musik, dll. 
<!--[if !supportLineBreakNewLine]-->
<!--[endif]-->

<!--[if !supportLists]-->3.      <!--[endif]-->Dimensi fisik Peningkatan populasi lansia tentunya juga akan diikuti dengan peningkatan risiko menderita berbagai penyakit kronis. Adanya   penyakit   kronis pada   lansia dapat    menurunkan    kualitas    hidup    khususnya dimensi   kesehatan   fisik, oleh karena itu, menjaga kesehatan lansia sangat penting dilakukan, seperti menjaga pola makan dan sesuai keadaannya. Kontrol monitor rutin kesehatannya

4.  Asupan gizi, istirahat yang cukup, dan olahraga ringan seperti jalan-jalan sore.

5. Dimensi Emosional Kondisi emosional Lansia merupakan keadaan psikologis Lansia meliputi aspek kemampuan berpikir, perasaan, maupun sikap yang tampak melalui perilaku yang dapat dilihat. lansia dibantu dengan keluarga untuk menstabilkan emosinya, dihrapkan agar lansia mampu memahami emosi, mengontrol emosi diri, serta mampu melakuakan hubungan sosial yang baik.

6. Sosial Kemasyarakatan Pembangunan dimensi sosial kemasyarakatan dimaksutkan untuk membangun keluarga yang bisa mendampingi, dan merawat lansia, karena tempat terbaik bagi Lansia adalah keluarga. Diharapkan keluarga dan masyarakat mampu memperhatikan, memberikan pelayanan, memberikan bantuan sosial, da pemberdayaan lansia. Dimensi Profesional Vokasional Merupakan kondisi kemampuan lansia dalam mengembangkan dirinya. Bertujuan untuk mencapai derajat kemandirian dan kualitas hidup yang prima. Indikator dari dimensi profesional vokasional adalah pengembangan usaha ekonomi oleh lansia. Usaha ekonomi produktif yang bisa dilakukan seperti membatik, bidang kuliner, dan bidang industri rumah tangga

7. Dimensi Lingkungan kondisi lansia dalam berpartisipasi di lingkungan sekitarnya. Indikator dari dimensi   lingkungan berupa partisipasi lansia dalam  kegiatan lingkungan fisik dan non fisik. Bertujuan agar terciptanya kondisi lingkungan yang kondusif di lingkungan sekitar lansia meliputi: lingkungan beraktivitas, lingkungan bersih dan sehat, lingkungan mental spiritual dan lingkungan sosial budaya

Daftar Pustaka

  • Fatmah. 2010. Gizi Usia Lanjut. Jakarta: Erlangga.
  • Wahyudi, Nugroho. 2008. Keperawatan Gerontik dan Geriatrik. Jakarta: EGC.
  • Maryam, Siti. 2008. Menengenal Usia Lanjut dan Perawatannya. Jakarta: Salemba Medika.
  • Stanley, M., dan Patricia, G.B. 2007. Buku Ajar Keperawatan Gerontik. Jakarta: EGC.
  • Imanda, Raisa. N. (2016). Strategi Peningkatan Quality of Urban Life (QoUL) dengan Pertimbangan Tingkat Kepuasan Masyarakat terhadap Kota Tempat Tinggal. Prosiding Temu Ilmiah IPLBI 2016.
  • Juczynski, Zygfryd. (2016). Health Related Quality Of Life: Theory And Measurement. Acta Universitatis Lodziensis Folia Psychologica. Health Psychology Department.
  • Noll, Heinz-Herbert. (2012). Social Indicators And Quality Of Life Research: Background, Achievements And Current Trends. Advances In Sociological Knowledge Over Half A Century. Paris: International Social Science Council. Published In: Genov, Nicolai Ed 2012.